Tuesday, April 05, 2022

Puasa (1)


Puasa adalah ibadah yang melarang seseorang untuk berbuat sesuatu. Berbeda dengan ibadah lain yang mana seseorang harus melakukan sesuatu.

Oleh sebab itu hanya diri sendiri (dan Tuhan) yang tahu pasti apakah dia berpuasa. Ini membuat puasa merupakan ibadah yang sangat personal, antara diri sendiri dan Tuhan. Tujuannya adalah agar manusia bertaqwa, yaitu secara personal meningkatkan awareness pada Allah, alertness, waspada dan eling…


Selamat menunaikan ibadah puasa.(AU-03042022).

Friday, November 18, 2016

Sedekah


Kata sedekah berasal dari bahasa Arab shadaqah yang artinya, pemberian, hadiah, sumbangan, yang sifatnya sukarela tanpa mengharap balasan. Shadaqah akar katanya adalah shad-dal-qaf yang berarti berkata dan bertindak dengan benar dan jujur. Sehingga dengan demikian pengertian lengkap dari sedekah adalah: pemberian dengan cara yang benar penuh kesadaran tanpa mengharapkan balasan, yang lebih populer kita sebut sebagai pemberian yang lillahi ta’ala.

Pemberian atau sedekah termasuk infak sangat dianjurkan Allah s.w.t. baik dalam kondisi lapang /berlebih, maupun kondisi sempit / kekurangan, firman Nya dalam Al-Quran surat Ali Imran (3) ayat 134 : (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q-3:134). Oleh sebab itu tidak perlu menunggu kaya untuk bersedekah.

Sedekah, dapat juga berfungsi sebagai alat atau instrumen untuk menditribusikan kekayaan dari yang mampu kepada yang kurang mampu. Distribusi ini sebagai usaha mengentaskan kemiskinan, dan membantu kalangan tidak mampu untuk mengangkat taraf kehidupannya. Beragam tingkat ketidak mampuan mereka. Ada yang memang tidak punya apa-apa untuk bertahan hidup, dan ada yang membutuhkan modal agar dapat meninggalkan kehidupan yang serba kurang atau kemiskinan. Atau menurut istilah sekarang kita sebut sebagai pendistribusian modal tanpa ikatan apapun.

Pemberian modal tanpa ikatan ini merupakan kekuatan sedekah, yang sangat membantu penerima sedekah untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Penerima sedekah tidak dibebani untuk membayar kembali, apalagi memberikan keuntungan. Disinilah kelebihan Islam dalam mengatur kesejahteraan dan keadilan sosial yang berseberangan dengan prinsip kapitalis.

Konsep sedekah dalam Islam juga bertujuan membersihkan harta, karena setiap rezeki yang kita peroleh ada hak si miskin didalamnya. Syari’at Islam mengatur siapa yang berhak diberi sedekah, yang dapat kita cari dari buku-buku fiqh dan petunjuk dalam hadis-hadis Nabi s.a.w.

Hal penting dan utama yang perlu diperhatikan oleh pemberi sedekah. Bahwa sedekah berupa niat baik untuk membantu sesama manusia, tidak boleh dikotori dengan niat lain yang kadang-kadang tersembunyi tanpa kita sadari. Bersedekah harus dilakukan dengan ikhlas, tidak mengharap balasan apapun, tidak juga mengharap sekedar ucapan terima kasih, dan jauh dari riya.

Di sisi lain, sedekah atau memberikan sebagian harta merupakan wujud tindakan pembuktian kesadaran yang diyakini sebagai kesadaran ilahiyah, sebagai bagian dari taqwa. Jadi sedekah juga berefek kembali kepada diri sendiri. Ini dijelaskan dalam Firman Allah s.w.t. dalam Al-Quran surat Al-Insan (76) ayat 8 dan 9: “Dan mereka memberi makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (sambil berkata) Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu.” (Q-76:8-9).

Contoh sederhana, misalnya kita mau bersedekah dengan menyisihkan pakaian bekas untuk si miskin, kita memilih pakaian kita yang sudah tidak kita sukai atau pakaian tua. Patut dipertanyakan apakah niat kita betul-betul bersedekah atau membersihkan lemari dari pakaian bekas.

Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 267 yang artinya: Hai orang-orang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.  (Q- 2:267). Ayat ini juga merupakan sindiran Allah kepada orang yang bersedekah tidak sebanding dengan yang dimilikinya. Padahal dalam beramal kita selalu dituntut melakukan yang terbaik, sesuai dengan petunjuk Rasulullah s.a.w : Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat kepada sesama manusia.”

Sebagai renungan terakhir, mari simak Firman Allah dalam Al-Quran surat Ali Imran (3) ayat 92: Lan tanalulbirra hatta tunfiqu ma tuhibbun, wa ma tunfiqu min syaiin fa innallaha bihi ‘alim - artinyaKamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan (sebagian harta) yang kamu cintai, dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha Mengetahui”. (Q-3:92). Disini ditegaskan oleh Allah s.w.t. bahwa yang disedekahkan musti harta yang disukai.

Bersedekahlah dengan yang terbaik dan jauhi sifat riya.




Pamulang, 19 November 2016.




Sunday, May 08, 2016

Peta Baru Menuju Kampung Akhirat

Kuliah subuh di masjid hari ini.

Ustadz mengandaikan bekal amal didunia yang akan dibawa ke kampung akhirat nanti ibarat barang bawaan yang akan melewati beacukai seperti kita pulang dari luar negeri kembali ke tanah air.  Amal sebagai barang bawaan akan diperiksa oleh malaikat penjaga akhirat, sehingga itu akan menentukan apakah kita akan dimasukkan ke surga atau neraka.

Adapun skenario yang dianut selama ini, bahwa kita dilahirkan kemudian hidup dan berkiprah dimuka bumi, setelah itu meninggal dan nanti pada yaumil akhir akan dihisab amalannya di pengadilan Allah dengan bukti alias BAP dari catatan yang dibuat oleh malaikat, dan keputusan pengadilan ini yang akan menentukan apakah kita akan masuk ke surga atau neraka.

Melalui pengandaian itu umat akan memahami kajian yang  disampaikan, tapi masihkah relevan skenario seperti itu.

Bukankah bagi Allah semuanya sangat mudah. Semua amalan kita akan diketahui-Nya secara langsung saat kita kerjakan. Apa masih relevan menggambarkan skenario penantian sampai yaumil akhir, apakah Allah memerlukan catatan BAP dari malaikat, apakah bayangan padang mahsyar yang menampung semua manusia dari awal  sampai kiamat, dengan jembatan serambut dibelah tujuh dan api yang menyala dibawahnya.

Memang ada teks yang menggambarkan urutan seperti diatas, namun kelihatannya perlu pandangan baru dalam melihat peta jalan kehidupan manusia. Diperlukan gambaran baru yang lebih up to date tentang proses pengadilan, tentang padang mahsyar, tentang titian serambut dibelah tujuh. Gambaran baru yang dapat dipahami dengan pikiran dan konsep modern. Kalau tidak mau secara perlahan pengunjung pengajian akan semakin sepi, maka diperlukan tafsir yang dapat memberikan peta baru menuju kampung akhirat. 

Kita merindukan mufasir demikian.

08 Mei 2016.

Friday, September 04, 2015

Islam Nusantara dan Indonesia Berkemajuan.

Jauh sebelum terbentuknya Negara Republik Indonesia, dua organisasi berbasis Islam yaitu Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU) telah mulai mengorganisir masyarakat untuk meraih masa depan yang lebih baik. Muhammadiyah yang berdiri tahun 1912, dikenal dengan program pendidikan modern, kesehatan dan misi pemurnian ajaran Islam yang dikenal dengan program pembebasan umat dari tahayul, bid’ah dan khurafat. Sementara NU yang berdiri tahun 1926 dikenal dengan program pendidikan calon ulama dengan sistim pendidikan pesantren, dan menjaga moral ummat islam melalui dakwah yang mengakar pada budaya lokal.

Awal Agustus tahun 2015 kedua organisasi terbesar di Indonesia tersebut, mengadakan muktamar dalam rangka memilih pengurus baru dan penentuan program dan langkah lima tahun kedepan.

Pada muktamar tersebut Muhammadiyah mengusung tema “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan” dan NU mengusung tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Membangun Peradaban Indonesia dan Dunia.” Kedua tema ini menuju kesejahteraan umat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saya memahami Indonesia Berkemajuan adalah visi menjadikan Indonesia yang maju disegala bidang, Indonesia yang terkinikan atau modern, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana menuj u kesejahteraan. Alangkah indahnya suatu saat nanti budaya riset ditemukan di laboratorium dan pusat ilmu universitas-universitas Muhammadiyah. Pertumbuhan ilmu kedokteran dan kesehatan yang dilahirkannya melalui rumah sakit-rumah sakit Muhammadiyah yang telah tersedia cukup banyak. Saya membayangkan innovasi teknologi, penemuan pengobatan dan teknologi kesehatan akan dihasilkan oleh lembaga riset, rumah sakit dan universitas Muhammadiyah.
Infrastruktur dilingkungan Muhammadiyah sudah sangat memadai dari segi jumlah, berupa sarana pendidikan dengan konsep modern dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, dan balai pengobatan serta rumah sakit. Pengorganisasian dan jumlah anggota serta simpatisan yang sangat besar akan menjadi pelaku dan penunjangnya. Muhammadiyah sudah barang tentu harus berbenah meningkatkan kualitas infrastruktur tersebut dari waktu ke waktu. Untuk itu sudah juga tersedia banyak ahli dari kalangan internal yang bisa menjadi penggerak untuk peningkatan kwaliatas tersebut.

Demikian juga saya memahami peradaban yang akan terwujud melalui Islam dengan tidak meninggalkan budaya lokal Nusantara sebagai perwujudan dari rahmat semesta alam. Pelestarian  budaya lokal yang dipromosikan di sarana pendidikan dasar dan menengah pada pesantren-pesantren NU.

Nahdatul Ulama dikenal dengan ikatan kekerabatan yang sangat kompak dan solid, memiliki pesantren-pesantren terkemuka dalam jumlah yang cukup, dibantu oleh kaum nahdhiyin yang jumlahnya sangat dominan. Saya membayangkan NU melahirkan para ulama/cendekia serta peneliti ilmu sosial yang dihasilkan oleh institusi NU. Ulama yang berwawasan luas, yang menghargai kaum yang berbeda, baik berbeda dikalangan dalam Islam maupun diluar Islam.

Harapan yang sangat besar terbebankan pada Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama untuk mencapai kesejahteraan bangsa yang diidamkan. Saat ini kedua organisasi tersebut sedang menyusun program mereka, maka harapan-harapan ini kita kemukakan sebagai masukan mereka.

Agar tercapai masyarakat Islam Nusantara dalam Indonesia Berkemajuan diharapkan kedua organisasi besar tersebut melakukan sinergi atas program-program mereka. Kita harapkan para pengurus kedua organisasi tersebut menyadarinya. Persaingan positif sangat diharapkan sehingga program dan hasil dari masing-masing pihak tidak saling melemahkan satu sama lain. Mereka dapat bekerja sama memanfaatkan sumber yang saling menunjang, berbagi informasi dan hasil penelitian sehingga usaha keduanya dapat menuju sasaran yang diinginkan untuk kemajuan bangsa.

Persaingan tidak sehat, klaim-klaim kebenaran jangan lagi menjadi isu seperti sebelumnya. Kedua organisasi ini harus berbicara tentang esensi islam dan kesejahteraan bersama bukan hanya kesejahteraan anggota saja. Mereka tidak lagi terjebak dengan masalah perbedaan furu’, tidak lagi mempermasalahkan perbedaan awal puasa atau lebaran. Dengan demikian mereka semestinya menyiapkan program serta langkah taktis yang sinergis, demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia yang juga sudah barang tentu menjadi cita-cita kedua organisasi besar diatas.

Apabila ini memungkinkan maka dapat kita harapkan akan terlahir kembali bangsa Indonesia yang berakhlak tinggi, toleran, berwawasan terbuka serta plural. Karena Islam yang diusung kedua organisasi ini mewarnai mayoritas rakyat maka wajah islam  rahmatan-lil-alamin yang sebenarnya akan terwujud . Kondisi ini akan menjadi landasan yang kuat menuju kesejahteraan Indonesia. Semoga.-
Pamulang, 17 Agustus 2015.
 Adli Usuluddin.

Monday, August 24, 2015

CINTA

Agama mengajarkan bahwa mencintai apapun janganlah melebihi cinta pada Tuhan.

Saat ingin mencintai Tuhan kita mulai kebingungan, bagaimana caranya kita menyalurkan cinta itu, karena Tuhan tidak dapat dijadikan obyek sementara cinta memerlukan subyek dan obyek.

Kemudian muncullah berjuta bentuk cinta, yang dapat dipahami yang berkaitan dengan subyek-obyek ini. Ada cinta asmara, persahabatan, tanah air, harta, kedudukan, pangkat  dan sebagainya. Manusia mulai terjerat kedalam pelbagai cinta diatas, dan larut didalamnya. Bentuk cinta ini semuanya memiliki subyek dan obyek yang dapat ditangkap dan terdefinisi. Akibatnya cinta mulai bergerak kearah kepemilikan yang menjadi posessif dan cenderung melekat pada obyek yang dicintai.

Sesungguhnya obyek yang dicintai itu adalah sekedar ”substitusi” dari Sang Pencipta obyek, kesemuanya hanya ”saluran” cinta pada Tuhan (saya tulis substitusi dalam tanda kutip, karena saya tidak menemukan kata yang tepat, karena Pencipta tidak bisa disubstitusi). Dengan demikian mencintai apapun didunia ini sebagai ciptaan Tuhan, sejatinya adalah mencintai Tuhan. Apapun alasan untuk mencintai sesuatu semuanya pasti menuju Dia.

Suatu hal yang perlu disadari terus menerus adalah bahwa obyek cinta adalah saluran dalam rangka mencintai Tuhan. Kita tidak boleh melekat (attached) dengan obyek tesebut, harus disadari bahwa semuanya hanyalah obyek penyaluran cinta.

Cintailah dunia ciptaan Tuhan, tapi jangan melekat padanya.

Syafa’at Rasulullah.

Sebagaimana kita semua menyadari bahwa umat Islam sering dinasehati agar berdo’a dan bershalawat, agar nanti di yaumil akhir kita diberi syafa’at oleh Rasulullah agar terhindar dari siksaan api neraka.

Syafa’at secara umum berarti usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain.
Syafa’at Rasulullah menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani adalah:
“Rasulullah memberikan syafa’at kepada manusia pada hari kiamat, yaitu dengan memberikan ketenangan pada waktu mereka dalam ketakutan.
Rasul juga memberikan syafa’at dengan memohon keringanan adzab untuk sebagian orang-orang kafir, sebagaimana yang terjadi pada diri paman beliau Abu Thalib.

Rasul juga memberikan syafa’atnya dengan memohon kepada Allah untuk mengeluarkan sebagian orang mukmin dari siksa api neraka atau memohonkan mereka untuk tidak dimasukkan ke dalam api neraka setelah ditetapkan bahwa mereka akan masuk neraka.

Rasul juga dapat memberikan syafa’at bagi seseorang untuk masuk surga tanpa melalui proses hisab atau dengan mengangkat derajat sebagian mereka untuk bisa tinggal dalam surga yang lebih tinggi.”

Selanjutnya, apakah yang terbayang oleh kita tentang syafa’at ini, apakah kelak Rasulullah akan datang di pengadilan Tuhan, dan kemudian beliau membantu kita?

Saya kira tidak demikian.....!

Allah swt memerintahkan kita berdo’a, namun do’a bukanlah sebuah tombol untuk menggerakkan apa yang kita inginkan. Tapi do’a adalah memberikan kesiapan pada diri kita untuk menerima pemberian dari Allah swt. Syafa’at Rasulullah itu adalah salah satu bentuk pemberian dari Allah swt.
Berdo’a saja tidak cukup.
Jadi untuk mendapatkan syafa’at Rasulullah kita seharusnya juga berbuat dan berakhlak  yang baik.
Rasulullah saw adalah patron yang paling pantas untuk dicontoh. Kita harus bisa meniru akhlak Muhammad saw dengan sepenuhnya. Dengan meniru akhlak beliaulah syafa’at dengan sendirinya akan dianugerahkan kepada kita.
Ini sesuai dengan petunjuk Allah dalam al-Quran surat  Al-Ahzab (33) ayat 21: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.”
Dan dipertegas dengan sabda Rasulullah saw dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari : ”Inna ma bu’itstu li utimma shalihul akhlak” , yang artinya: sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang saleh. (H.R. Bukhari).

Bagaimana meniru akhlak beliau sementara beliau sudah tiada?
Beliau mengamalkan semua kebaikan manusia yang disebutkan dalam al-Quran. Muhammad dikenal santun dan dapat dipercaya. Beliau kalau disakiti tidak pernah membalas, bahkan dihina sekalipun beliau tetap mema’afkan penghinanya.

Muhammad dikenal sebagai manusia yang berakhlak Al-Quran. Oleh sebab itu kita harus mendalami ajaran akhlak melalui Al-Quran dan Sunnah beliau.

Akhlak inilah yang harus ditiru oleh umat Islam agar dapat memperoleh syafa’at diakhirat kelak.


Wallahu a’lam

Saturday, November 23, 2013

MURTAD.



Khutbah hari ini ditempat saya shalat jum’at disampaikan oleh seorang khatib senior dengan sangat piawai. Khutbah dengan topik fenomena pemurtadan disampaikan dengan gaya sangat persuasif menggiring alur pikir pendengar dan menghipnotis jamaah sehingga tidak ada yang tertidur. Topik khutbah sebenarnya biasa saja dan tidak ada yang aneh, namun penjelasan detailnya tidak dapat diterima sepenuhnya, bahkan membahayakan karena dapat mengundang gesekan sosial. 

Menurut khatib, siapapun orang islam yang  sedikit saja mengikuti orang kafir sudah termasuk orang yang murtad. (Yang dimaksud kafir disini adalah orang non Islam, walaupun untuk istilah kafir ini masih perlu perdebatan lagi). Ayat Al-Quran yang dikutip yang intinya adalah siapapun yang mengikuti sedikit saja kelakuan orang kafir akan menjadi murtad (saya lupa ayat yang beliau kutip). Rasanya tidak dapat kita terima terjemahan khatib bahwa hanya sekedar merayakan ulang tahun dengan kue dan lilin sudah membuat seorang muslim jadi murtad. Menurut saya ayat itu lebih bicara pada aqidah  dan keyakinan yang prinsipil, bukan masalah tetek bengek seperti ulang tahun.

Perlu disadari bahwa kita manusia adalah makhluk sosial yang bermasyarakat, tidak bisa hidup sendiri atau hanya dalam kelompok yang terisolasi. Hidup bermasyarakat, tidak hanya lingkungan seagama, tapi jauh lebih luas. Kita hidup dengan orang-orang dari berbagai macam agama dan kepercayaan serta berbagai bangsa.  Dalam kehidupan demikian tidak dapat dihindari terjadinya pertukaran budaya, saling pengaruh akibat dari interaksi sosial. Apalagi kehidupan modern saat ini dengan sistim komunikasi yang sangat maju. Disadari atau tidak ini adalah sunatullah, yang menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling menjalin hubungan baik. Ummat Islam diberi pegangan untuk menjaga diri agar tetap dalam koridor Islam, yaitu petunjuk syari’at dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul. Meskipun penafsiran syariat dari Al-Quran dan Sunnah juga sangat beragam, tapi kita punya satu ikatan rukun Islam dan Iman dalam satu konsep tauhid.  Sangat mungkin dan memang kenyataan bahwa koridor Islam juga saling berhimpitan dengan koridor keyakinan lain, apalagi keyakinan dari apa yang dikenal dengan agama langit. Koridor yang berhimpit ini tidak dapat hanya diklaim sebagai Islam dan tidak boleh juga ditolak sebagai bukan islam. Koridor yang berhimpit ini boleh jadi apa yang dilansir Allah dalam al-Quran adalah termasuk kalimatussawa.

Kemudian khatib juga mengatakan bahwa pemurtadan itu dilakukan oleh kaum kafir (terutama Yahudi dan Nasrani) terhadap Islam. Lagi-lagi khatib mengutip ayat yang isinya tentang ketidak relaan kaum Yahudi dan Nasrani kalau kita belum ikut mereka. Padahal ayat tersebut sangat kontekstual pada zaman Nabi, saat kaum muslim berperang dengan Yahudi dan Nasrani dulu. Era sekarang saya kira terlalu berlebihan kalau kita menganggap Yahudi dan Nasrani adalah agama yang bermaksud menyerang Islam. Terlalu jauh pikiran yang dilontarkan khatib bahwa mereka (Yahudi dan Nasrani) memerangi Islam, apalagi dia menambahkan bahwa tidak hanya perang dalam artian klasik dengan senjata dan pertumpahan darah, tapi juga perang dengan menyusupkan ideologi, konsep pemikiran dan sytem perangkat hidup. Ketakutan bahwa Islam akan menjadi rendah sepertinya adalah ketakutan yang berlebihan. Ketakutan ini yang akan menimbulkan pikiran bahwa Islam diperangi, padahal mungkin sebenarnya kualitas keberagamaan kita yang kurang percaya diri. Kalau pun toh ada perang, semuanya adalah akibat perebutan kekuasaan dan pengaruh, dengan memakai agama sebagai alat yang ampuh melibatkan ummat. Bukan ajaran agama yang ingin saling mengalahkan, tapi penganutnya yang kebablasan. Cara penyampain khatib tersebut termasuk kebablasan, sangat rentan dan memicu sentimen umat untuk saling berperang.

Kita tidak bisa hidup dengan membentengi diri, steril dari pengaruh luar, kita makhluk sosial dan harus hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Kita juga tidak bisa memaksakan aturan Islam yang harus diberlakukan dalam keberagaman Indonesia. Kita harus mencari kesamaan bukan perbedaan sehinga dapat berlomba-lomba menuju kebaikan. Semoga.
Adli Usuluddin
Jum’at 22 November 2013