Tuesday, January 01, 2008

Milik Siapa?

Tuhan adalah Dia yang Maha Esa
Selalu disebut dengan seribu nama

Manusia Dia jelmakan
Sebagai pancaran diri Nya

Budha, Confusius, Dia jelmakan
Musa, Daud, Yesus, Muhammad, Dia jelmakan
Para orang suci Dia jelmakan
Untuk meretas jalan menuju Dia

Semua Dia jelmakan
sebagai pancaran diri Nya
Manusia semua dalam genggaman Nya.
Tiada hak manusia memiliki Nya.

Thursday, December 20, 2007

Hal Remeh yang Terlupakan

Hari ini saya shalat Ideul Adha dilapangan masjid dikompleks tempat saya tinggal. Usai shalat, meskipun khatib belum selesai berkhotbah, anak-anak mulai bermain disekitar tempat shalat. Adapun yang menarik perhatian mereka adalah ternak kambing dan sapi yang tertambat dekat masjid yang akan dipotong sebagai qurban.

Aktifitas anak-anak yang berumur 5 - 7 tahun tsb, dengan keluguannya berusaha menyenangkan diri sendiri sambil bermain dengan kambing-kambing. Mereka mulai meberikan daun-daunan untuk dimakan kambing. Mereka mengambil daun tanaman dipekarangan orang tanpa diketahui dan ijin dari pemiliknya, yang nota bene tanaman tsb ditanam dan dipelihara untuk keindahan pekarangan. Sederhana sekali masalahnya anak-anak yang lugu bermain, memberi makan kambing dengan penuh keceriaan. Yang pasti tidak disadari adalah mereka mengambil daun tanaman milik orang lain. Kejadian seperti ini luput dari perhatian orang tua dan para pendidik. Sudah sepantasnya sejak dini diajarkan bahwa mengambil yang bukan milik kita harus dilarang, meskipun hal yang remeh dan kecil. Sesuatu yang besar selalu dimulai dari yang kecil. Sederhana masalahnya tapi amat besar akibatnya dikemudian hari. Kebiasaan mengambil hak orang lain tanpa izin akan terbiasa, dan kalau dibiarkan akan menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi akhlak. Penjahat besar dan koruptor diawali dengan hal-hal remeh seperti ini, mengambil yang bukan hak tanpa izin.

Sudah saatnya kita peduli hal-hal kecil seperti ini, untuk menyiapkan generasi kedepan yang lebih baik dan berakhlak tinggi. Saya pikir salah satu cara membasmi koruptor harus dimulai dari sini.

Monday, December 10, 2007

Argumen, Nalar dan Pendidikan

Anda mungkin pernah mengalami kecelakaan sewaktu mengendarai kendaraan dijalanan. Apalagi di Jakarta dengan lalu lintas yang padat, kecelakaan atau sekurang-kurangnya serempetan, sangat mungkin terjadi. Saya beberapa kali mengalami diserempet kendaraan lain, dan saya tidak dalam posisi salah. Pada kondisi ini sangat biasa dan selalu saya mengalami bahwa pengemudi yang menyerempet akan langsung marah-marah dan malah menuntut ganti rugi.

Kemudian, coba perhatikan kebiasaan pengemudi dijalan umum, Anda akan menemukan ribuan pelanggaran ketertiban dan peraturan lalu lintas yang baku. Kebiasaan ini dilakukan oleh hampir segala lapisan masyarakat, tidak tergantung tingkat pendidikan mereka. Berhenti ditempat yang dilarang, atau berhenti seenaknya, yang umumnya dilakukan oleh kendaraan umum untuk menunggu atau menaikkan penumpang, sampai bapak-bapak parlente yang berhenti seenaknya membeli sesuatu diwarung yang diperlakukan sebagai warung “drive in”.

Pada contoh yang pertama terjadi pemaksaan kehendak bahwa yang bersalah dengan prinsip menggebrak duluan akan menjadi pemenang. Cara ini memperlihatkan ketidak mampuan dalam mencari solusi permasalahan dengan berargumen. Keunggulan manusia adalah memiliki akal pikiran yang dapat berargumen dengan nalar yang baik. Suatu pemaksaan dengan gebrakan memang alat untuk menang, tapi diterapkan dengan salah tanpa argumentasi yang nalar.
Pada contoh kedua yang menjadi issue adalah kesadaran kebersamaan diruang publik yang sangat rendah. Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi seakan-akan ditolerir oleh semua pihak, baik dari sesama pemakai ruang publik maupun penegak hukum. Kalau ada pemakai jalan yang protes, biasanya akan dijawab dengan “jalan ini ‘kan milik bersama” atau “memangnya jalan ini punya moyang mu?” atau dengan kata lain “what’s wrong?” padahal sudah jelas “absolutely wrong”. Kondisi ini hanya bermasalah bagi orang yang sadar dengan fungsi ruang publik dan cara bersikap didalamnya. Jadi bagi pelaku pelanggaran ini mereka merasa tidak ada masalah, atau dengan kata lain kesalahan sudah jamak dan ditolerir.

Dua contoh diatas adalah sebagian kecil dari perilaku masyarakat Indonesia berlalu lintas dijalan umum. Kalau dilakukan survey akan terdapat sederet panjang pelanggaran. Memang sikap berlalu lintas disatu negeri menunjukkan tingkat keberadaban bangsa yang hidup dinegeri tersebut.

Satu contoh lagi, pada hari ini Senin 10 Desember 2007, saya membaca berita bahwa organisasi pengemudi angkutan umum di Bekasi melakukan mogok dan menyetop kendaraan angkutan perusahaan/pabrik. Mereka protes akan keberadaan angkutan perusahaan tersebut yang dianggap sebagai penyebab mereka kekurangan penumpang dan menurunnya pendapatan mereka.
Disini terlihat kembali kemiskinan argumen yang nalar telah sampai ketingkat komunitas atau organisasi. Argumen apa yang mendukung tindakan penyetopan angkutan perusahaan ini? Kalau sekiranya argumen mereka dibenarkan bahwa penumpang angkutan umum berkurang dengan adanya kendaraan antar jemput perusahaan, maka secara logis semua kendaraan adalah competitor dari angkutan umum, dus apa semua kendaraan harus tidak beroperasi, sehingga semua orang naik angkutan umum?
Memang kebijakan publik pemerintah juga punya andil dalam masalah ini, namun sikap pengemudi angkutan umum adalah cerminan dari kemiskinan argumen yang nalar.

Untuk mengatasi masalah ini tidak cukup hanya dengan law enforcement. Tapi harus lebih mendasar yaitu melalui pendidikan. Terutama pendidikan dasar yang sangat berpengaruh pada kebiasaan seseorang. Kebiasaan atau habit, adalah kunci untuk mendapatkan masyarakat yang berdisiplin dan berpikir argumentatif.
Dari jenjang pendidikan dasar, harus diterapkan pendidikan etika serta proses. Etika akan mempekenalkan rambu kehidupan, membentuk pribadi yang jujur, seterusnya akan membentuk kebiasaan yang menjadi habit dan membentuk moral seseorang. Sementara proses adalah pengertian atas alur yang mengajarkan bahwa sesuatu terjadi melalui aturan, tidak bisa dengan extract atau crash program. Jadi butuh waktu.

Contoh diatas, berlaku di republik ini tanpa ada yang memperhatikan secara serius. Kalau ada yang memperhatikan dengan serius sudah barang tentu ada kemajuan kearah perbaikan.
Karena untuk merubah bangsa ini memang butuh waktu dan proses, jadi harus dimulai dari sekarang, dengan membenahi pendidikan secara radikal.

Monday, November 26, 2007

Khotbah

Hari ini saya shalat jum'at didekat kantor saya di Jakarta. Khotbah yang disampaikan khatib sangat memprovokasi pikiran saya.
Khatib menyebut Islam sebagai rahmatan lil alamin, dengan pengertian agar seluruh dunia jadi Islam. Kemudian disebut juga musuh-musuh Allah, dan berdoa agar musuh-musuh Allah tersebut seperti Bush dan Yahudi dilaknat Allah dan minta perjuangan rakyat Palestina dimenangkan.

Ada tiga pertanyaan yang terpicu dalam benak saya setelah terprovokasi oleh khutbah ini.
Pertama, adalah pengertian rahmatan lil alamin, apakah seluruh dunia harus di-islam-kan? Dimana harus ditempatkan anjuran: lakum dinukum walyadin; la ikraha fiddin; dll ayat kebebasan beragama, karena toh agama2 lain terutama agama samawi diakui oleh Islam sbg agama yang diturunkan Allah juga? Bukankah rahmatan lil alamin menunjukkan bahwa alam ini punya keberagaman, kalau sekiranya ditafsirkan dengan menjadikan dunia memeluk Islam akan lebih tepat ungkapannya menjadi rahmatan lil muslimin?
Kedua, apakah Allah yang menciptakan semua isi alam ini mempunyai musuh? Apa gunanya dia menciptakan makhluk yang akan dimusuhi? Atau musuh Allah diciptakan bukan oleh Allah, jadi.... ada ilah lain. Sang khatib tidak sadar bahwa dengan menyebut musuh Allah, dia sudah menciptakan ilah lain, dus...mensyarikatkan Allah.
Ketiga, apakah bijak berdoa agar Allah mencelakakan orang lain yang tidak kita sukai (musuh kita)? Bukankah sebaiknya mendoakan orang lain agar bertobat dan diberi petunjuk akan lebih menentramkan?

Saya tidak mengerti kenapa khatib atau da'i selalu menjual hal-hal seperti diatas. Mengaku Islam rahmatan lil alamin tapi manifestasinya berlawanan.
(Jumat, 23 Nov. 2007)

Tuesday, November 07, 2006

Dua Idul Fitri

Tulisan TH, Koran Tempo Minggu 29 Oktober 2006 sangat menyentuh sekali. Beliau merindukan kebersamaan ummat yang hangat dalam merayakan Idul Fitri, tanpa gunjing dan fitnah yang dapat membuat suasana fitri menjadi cacat. Sudah tidak dapat dibantah bahwa suasana yang demikian juga yang menjadi dambaan ummat Islam dalam merayakan Idul Fitri.

Suasana yang diharapkan itu dirasakan tidak tercapai, setidaknya di komplek tempat TH tinggal. Ini sebagai akibat dari perbedaan jadwal pelaksanaan shalat Idul Fitri yang berbeda pada tahun 2006 CE atau 1427 H ini. Ada golongan ummat yang ber idul fitri hari Senin 23 Oktober 2006, dan ada keputusan pemerintah yang menetapkan Selasa 24 Oktober 2006.

Sebetulnya masalah idul fitri akan lebih sederhana kalau kalender rujukan adalah kalender lunar Hijri. Apabila sistim kalender lunar yang dipakai sebagi rujukan, sudah barang tentu updating dan koreksian akibat rotasi dan revolusi bulan-bumi-matahari dapat dilakukan setiap saat. Tapi kita memang sudah sepakat untuk memakai kalender solar CE (Common Era - saya lebih suka pakai common era daripada Masehi) sebagai kalender rujukan, karena mayoritas penduduk bumi memakai sistim kalender CE. Dengan menganut sistim kalender CE maka koreksian dan pengecekan peredaran bumi dan bulan dilakukan seperlunya sesuai dengan kebutuhan seperti halnya penentuan awal puasa dan idul fitri saja. Sebetulnya Tuhan Maha Adil dan Bijaksana, Dia menyuruh ummat Islam berbuka besok, kalau sudah melihat bulan pada magrib hari ini. Terlihat bahwa Tuhan memakai dua standar waktu, kata "besok, siang dan malam" adalah merujuk ke sistim solar, sementara perhitungan awal bulan merujuk ke sistim lunar. Apa jadinya kalau misalnya dipakai sistim solar saja, maka hari-hari puasa disatu daerah akan selalu panjang karena berada di musim panas, sementara kebalikannya akan sangat pendek untuk daerah musim dingin. Sementara itu kalau pakai sistim lunar tidak memiliki istilah siang dan malam (siang dan malam adalah merujuk solar). Manusia disuruh berpikir dengan kedua rujukan ini dalam satu sistim besar jagad raya.

Apakah melihat bulan seperti yang diwahyukan dapat dilakukan dengan cara melihat dengan ilmu atau harus melihat dengan mata kepala? Biarlah ini menjadi kompetensi ahli fiqh. Yang jelas saat ini yang berkembang adalah metoda penentuan awal bulan dengan dua cara, yaitu melihat bulan dengan ilmu hisab dan melihat dengan mata kepala (rukyah). Dan kelihatannya ahli fiqh membenarkan kedua hal ini, terlihat dari himbauan-himbauan yang dilakukan oleh pemimpin ummat untuk tidak mempersoalkan perbedaan ini.

Suatu hal yang disayangkan adalah pemasangan label atau cap pada pengikut kedua cara ini di Indonesia. Yang mengikuti metoda hisab akan di"cap" sebagai golongan Muhammadiyah (karena Muhammadiyah secara organisatoris menganut metoda ini) dan pengikut rukyah sebagai non-Muhammadiyah, atau malah ada yang mencap sebagai NU. Ada pengecualian NU se Jawa Timur juga ber idul fitri hari Senin 23 Oktober 2006, bukan dengan alasan hisab karena ada yang merukyah bulan pada malam sebelumnya. Sudah waktunya kita tidak memberi label dengan cara generalisasi, karena tidak semua ummat yang idul fitri hari Senin adalah Muhammadiyah. Sekedar fakta saja yang membuat indikasi belumlah cukup untuk pemberian label. Fakta hanya fenomena, sementara label golongan adalah berbicara tentang konsep.

Kembali kepada kegelisahan TH, pemimpin ummat atau golongan seyogyanya melihat kemaslahatan ummat. Apalagi tentang idul fitri dan puasa yang merupakan ibadah individual tapi dilakukan secara bersama atau serentak. Kalau keserentakan ini yang diambil sebagai kriteria, maka saya yakin akan ada kesepakatan untuk penentuan idulfitri ataupun awal puasa. Tapi kalau perintah "melihat bulan" sebagai kriteria, maka kita harus bijak dalam menerima kenyataan bahwa ada dua metoda yang tidak akan mungkin disatukan. Tinggal dipilih kriteria yang mana.

Semoga kedamaian selalu meliputi ummat yang secara fitrah memang berbeda.

Friday, August 11, 2006

Sweeping

Mahasiswa di Makassar melakukan sweeping. Mereka mencari warga keturunan Cina untuk melampiaskan kemarahan. Ada yang dipukul dan diperlakukan dengan tidak menyenangkan. Alasan mereka melampiaskan kemarahan akibat ada warga keturunan Cina memperkosa di Sinjai.
Hari berikutnya sweeping dilakukan lagi. Sasaran kali ini adalah orang asing, dengan alasan melampiaskan kemarahan karena Lebanon diserang Israel.
Demikian isi berita dua hari yang lalu baik di media televisi maupun cetak.

Menurut logika tidak satu pun alasan logis yang dapat membenarkan perbuatan tersebut. Satu orang keturunan Cina yang memperkosa tidak dapat menjadikan semua warga keturunan Cina harus bertanggungjawab. Kalau logika ini yang dipakai maka semua sistim akan berantakan. Misalnya kalau ada orang Jawa, yang melakukan pemerkosaan, apakah semua orang Jawa juga akan disweeping? Sudah tentu jawaban nya tidak, dan kenapa orang keturunan Cina harus diperlakukan demikian?
Demikian juga kasus yang kedua, apa hubungannya orang asing di Makassar dengan Israel yang menyerang Lebanon, apakah orang asing itu ikut menyerang? Penduduk dunia ada 6,5 milyar, dimana orang Indonesia ada 200 juta sehingga orang asing ada sekitar 6,3 milyar jiwa, hanya sekitar 6 juta orang Israel. Sesuai dengan ilmu statistik maka kemungkinan ketemu orang asing yang Israel didunia ini hanya 6 juta per 6,3 milyar atau sama dengan 1 diantara 10 ribu. Nah kalau mau ketemu orang Israel di Indonesia kemungkinannya adalah 1 /10.000 diantara 200 juta …...alias hampir tidak mungkin, sekalipun faktor mobilisasi mereka sangat tinggi. Kalau toh dijumpai orang Israel sekalipun, kita tidak dapat mengusir seenaknya dan tidak dapat dituntut pertanggung jawabannya. Atas dasar apa kita bisa menuntut mereka?

Sungguh sangat menyedihkan, bahwa yang melakukan sweeping ini adalah mahasiswa muslim dari kampus universitas yang menyandang identitas Islam. Kita harus waspada dengan kejadian diatas, boleh jadi karena ulah mereka tersebut akan membuat orang Islam dituduh emosionil dan tidak bisa berpikir logis. Stigma yang demikian sudah lama lengket, dan perlu dihilangkan.

Kita semestinya bisa berpikir dan bertindak secara adil. Memperkosa adalah perbuatan yang menentang keadilan. Israel menyerbu Lebanon adalah tindakan yang tidak adil. Tapi melakukan sweeping dengan cara diatas adalah sama tidak adilnya. Lantas apa bedanya?

Friday, August 04, 2006

Iklan.

Saya rasa banyak orang yang telah menyaksikan iklan shampo dan iklan cream pemutih kulit di televisi. Sajian iklan disampaikan dengan enak dan gambar menawan. Satu hal yang kelihatan umum dan biasa dalam iklan shampo adalah rambut jadi lurus dan mudah disisir. Demikian juga halnya dengan iklan cream pemutih, yang menonjol adalah kulit akan lebih putih dalam tempo sekian lama, dan kulit putih menjadi suatu yang lebih baik dibandingkan kulit dengan warna lain.
Inilah yang tidak disadarai oleh semua kalangan, sehingga iklan-iklan tersebut tanpa disadarai telah melakukan brain washing, bahwa kulit yang bagus adalah kulit putih dan rambut yang indah adalah rambut lurus. Pada hal kita tahu bahwa manusia dilahirkan tidak mempunyai kesempatan untuk memilih apakah kulitnya mau putih, coklat atau hitam, dan juga tidak punya kesempatan memilih rambut lurus, ikal maupun keriting.
Konsep persuasif iklan-iklan tersebut terjebak menjadi seolah-olah berbau rasis, karena hanya ras tertentu saja yang berkulit putih dan berambut lurus. Kenapa misalnya iklan itu tidak dibuat lebih kreatif, misalnya rambut menjadi bersih dan rapi, baik itu keriting maupun lurus; ataupun kulit menjadi bersih dan bersinar baik itu putih, coklat ataupun hitam. Sehingga target audiens dari iklan ini menjadi lebih luwes dan luas kesegala bangsa baik berkulit putih, coklat maupun hitam; ataupun beramput lurus maupun keriting.
Kita memang harus berfikir Clearly and Honestly.